Jendela Keluarga

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Seuntai Kenangan

Rabu, 20 Februari 2013

Penelitian: Orang yang Tak Menikah Cenderung Cepat Meninggal

Jalan hidup setiap orang memang berbeda, begitu pula masalah jodoh karena katanya ini ada di tangan Tuhan. Menikah idealnya dilakukan saat usia 20-an tahun. Penelitian bahkan menemukan bahwa orang yang tak menikah cenderung lebih cepat meninggal.

Boleh percaya atau tidak, ada peneliti yang menganalisis hubungan antara menikah dengan lama hidup seseorang. Entah karena iseng atau penasaran, peneliti menemukan kesimpulan yang cukup mengejutkan, yaitu orang yang tak punya pasangan saat berusia paruh baya lebih tinggi risikonya mengalami kematian.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr Ilene Siegler dan rekan-rekannya dari Duke University Medical Center di AS. Tujuannya untuk mencari tahu mengapa ada sebagian orang yang tak dapat bertahan hidup sampai usia tua. Para peneliti ingin melihat pentingnya menikah bagi kesehatan.

Dalam laporan yang dimuat jurnal Annals Springer of Behavioral Medicine, para peneliti melihat efek riwayat dan waktu perkawinan serta usia kematian pada orang berusia paruh baya. Ada data dari 4.802 orang yang diteliti faktor kepribadiannya saat berusia 18 tahun, status sosial ekonomi dan perilaku yang berisiko bagi kesehatan.

Temuan menunjukkan bahwa kehadiran pasangan saat usia paruh baya bisa melindungi dari kematian dini. Orang yang tidak pernah menikah lebih berisiko 2 kali lipat mengalami kematian dibandingkan dengan orang yang pernikahannya langgeng. Menduda atau menjanda tanpa mendapat pengganti pasangan juga dapat meningkatkan risiko kematian.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa perhatian terhadap pola hubungan tanpa menikah terbukti berhubungan dengan kematian dini. Ikatan sosial selama usia paruh baya sangat penting untuk membantu kita memahami kematian dini," kata dr Siegler seperti dilansir Counsel and Heal, Senin (14/1/2013).

Usia paruh baya atau dewasa madya adalah rentang usia 40 - 60 an tahun. Sayangnya peneliti tidak menyebutkan apa saja penyebab kematian orang-orang pada usia paruh baya ini. Walau demikian, setidaknya penelitian ini menemukan salah satu manfaat menikah di antara sekian banyak manfaat lainnya.*Detik.com

Baca Selengkapnya..

Jumat, 08 April 2011

Rasa Bahagia, Jika Bisa Membahagiakan Istri

Banyak pasangan bertanya, bagaiamana tips agar kita dapat membahagiakan pasangan kita? Kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut bahagia. Itulah kuncinya. Impilikasinya, agar kita bahagia, carilah orang yang paling dekat dengan kita dan bahagiaakanlah mereka. Setelah itu, barulah kita akan merasa bahagia. Sesungguhnya bahagia itu bukan "benda" yang akan berkurang bila diberikan, tetapi ia seumpama cahaya yang semakin "diberikan" akan bertambah sinar terangnya. Ada kata orang bijak pandai, “dengan menyalakan lilin ke orang lain, lilin kita tidak akan padam... tetapi kita akan mendapat lebih banyak cahayanya.”

Siapakah orang –orang terdekat dan yang paling layak kita berikan kebahagiaan? Selain kedua ibu-bapa, maka para suami harus membahagiaan istrinya. Karena ialah yang paling utama harus mendapatkan kebahagiaan itu. Jika istri kita tidak merasa bahagia, jangan harap kita dapat membahagiakan orang lain. Dan paling penting, jika istri sudah menderita itu juga pertanda kita juga akan ikut menderita. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut menikmati kebahagiaan.

Apakah langkah pertama untuk membahagiakan istri? Pertama, hargailah kehadirannya. Rasakan benar-benar bahwa si dia adalah anugerah Allah yang paling berharga. Jodoh kita itu merupakan anugrah yang telah dikirim Allah khusus sebagai teman hidup kita sepanjang masa ketika hidup di dunia ini. Karena itu, jangan pernah sia-siakan ia.

Ingatlah bahwa yang paling berharga di dalam rumah kita bukannya perabot, bukan peralatan eletronik, komputer ataupun barang-barang antik yang lain. Yang paling berharga ialah manusianya – istri atau suami kita itu. Itulah" modal insan" yang sewajarnya lebih kita hargai daripada segala-benda yang mudah rusak itu. Masalahnya, benarkah kita telah menghargai istri melebihi barang-barang berharga di rumah kita?

Sayang sekali, kadang lain difikiran lain pula yang dirasa. Coba renungkan, berapa banyak para suami yang lebih prihatin keadaan kendaraan mewahnya atau barang-barang berharganya dibanding perasaan istrinya. Batuk istri yang berpanjangan seolah tidak ikut ia (suami) rasakan, dibanding "batuk" kendaraan pribadinya. Jika mobilnya suaranya aneh, ada sedikit kerusakan, para suami cepat-cepat membawanya ke tempat resvice mobil. Sementara jika sakit istrinya, ia tak segera buru-buru mengantarkan ke dokter atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.

Bila kendaraan terdengar/terasa sedikit 'aneh', cepat-cepat dibawa ke bengkel, namun jika istrinya yang batuk-batuk, malah dibiarkan. Alasannya, itu batuk biasa, atau tanda badan sudah tua.

Banyak pria memilih menjadi 'workoholic'. Ia bekerja siang, malam, tak kenal cuti dan istirahat. Bila ditanya mengapa ia begitu sibuk? Dia menjawab, “ini demi anak dan istri.” Padahal, ketika pulang ke rumah, waktunya juga bukan untuk anak dan istrinya. Yang ada, ia justru mengabaikan istri.

Ada suami yang hobi memancing setiap akhir pekan. Sementara di saat yang sama, ia membiarkan anak-anak dan istrinya kesepian di rumah. Padahal saat itulah waktu luang yang mereka tunggu selama ini agar bisa berasama-sama setelah semua harinya dihabiskan di kantor dan tempat kerja.

Di sekitar kita banyak orang aneh. Ada yang mencari duit sampai tidak sempat menikmati duit. Bila duit sudah terkumpul, kesehatan sudah tergadai, rumah tangga sudah berkecai, istri malah ikut terabai.

Jadi bagaimana kita dapat mengharagai pasangan kita? Insya-Allah, bila ada kemauan pasti saja ada jalan. Dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang bersungguh-sungguh. Kata orang, kasih, cinta dan sayang seumpama aliran air, senantiasa tahu ke arah mana ia hendak mengalir. Mulakan dengan memandangnya dengan perasaan kasih, mungkin wajah istri kita sudah berkerut, tetapi rasakanlah mungkin separuh "kerutan" itu karena memikirkan kesusahan bersama kita. Mungkin uban telah penuh di kepalanya, tetapi uban itu "tanda bukti" pengorbanannya dalam membina rumah tangga bersama kita. Itulah pandangan mata hati namanya.

Kalau dulu semasa awal bercinta, pandangan kita dari mata turun ke hati. Tetapi kini, setelah lama bersamanya, pandangan kita mesti lebih murni. Tidak dari mata turun ke hati lagi, tetapi sudah dari hati "turun" ke mata. Jika saat pertama kita terpaut karena "body", kinia yang kita lihat lebih jauh lagi, namanya “budi”. Yang kita pandang bukan lagi urat, tulang dan daging lagi... tetapi suatu yang murni dan hakiki – kasih, kasihan, cinta, sayang, mesra, ceria, duka, gagal, jaya, pengorbanan, penderitaan – dalam jiwanya yang melakarkan sejarah kehidupan berumah tangga bersama kita!

Daripada pandangan mata hati itulah lahirlah sikap dan tindakan. Love is verb, cinta itu tindakan, kata penyair.

Para suami kaya pulang bersama cincin permata untuk menghargai si istri. Atau petani hanya membawa sebiji mangga untuk dimakan bersama sang "permaisuri". Buruh yang pulang bersama keringat disambut senyuman dan dihadiahkan seteguk air sejuk oleh istri tentunya lebih bahagia dan dihargai oleh seorang jutawan yang disambut di muka pintu villanya tetapi hanya oleh seorang "orang –orang yang digaji".

Begitulah ajaibnya cinta yang dicipta Allah, ia hanya boleh dinikmati oleh hati yang suci. Ia terlalu mahal harganya. Intan, permata tidak akan mampu membeli cinta!

Hargailah sesuatu selagi ia masih di depan mata. Begitu selalu pesan cerdik-pandai dan para pujangga. Malangnya, kita selalu lepas pandang. Sesuatu yang 'terlalu' dekat, kadang lebih sukar dilihat dengan jelas. Sementara yang jauh terkesan jelas. Istri di depan mata, tidak dihargai, tapi orang lain nun jauh dipuji-puji. Kajian menunjukkan bahwa para suami di Amerika lebih banyak meluangkan masa menonton TV daripada bercakap dengan istrinya. Bayangkanlah, tiga jam menonton TV bersama tanpa sepatah-katapun pada istri atau keluarga, apa untungnya? Padahal istri dan anaknya duduk bersebelahan dengannya hanya beberapa inci.

Bahkan jika kita di rumahpun, kadang lebih sibuk ber SMS dengan orang lain. Malam SMS kadang, SMS ke teman lebih banyak dibanding jika ia SMS dengan istri jika sedang berada di luar atau di kantor. No news is a good news. Begitu seharusnya , rasa di hati kita.

Hidup terlalu singkat. Hidup hanya sekali. Dan yang pergi tak akan pernah kembali lagi. Yang hilang, mungkin tumbuh lagi... Tetapi tidak semua perkara akan tumbuh seperti semula. Apakah ibu-bapa yang 'hilang' akan berganti? Apakah anak, istri, suami yang 'pergi'... akan pulang semula? Jadi, hargailah semuanya selama segalanya masih ada di dekat kita. Pulanglah ke rumah dengan ceria, tebarkan salam, lebarkan senyuman. Mungkin esok, anda tidak 'pulang' atau tidak ada lagi si dia yang selama ini begitu setia menunggu kita di balik pintu. Mungkin Anda 'pergi' atau dia yang 'pergi'. Karenanya, hargailah nyawa dan raganya dengan dengan perasaan sayang dan cinta. Sebab hakekatnya kita tidak akan bahagia, selagi orang di sisi kita tidak bahagia!*

www.hidayatullah.com
Baca Selengkapnya..

Rabu, 29 Desember 2010

3 Tipe Wanita Yang Membuat Pria Tidak Nyaman

Banyak karakteristik wanita yang disukai pria. Salah satunya adalah wanita cantik, namun tidak selamanya wajah cantik dan kemolekan tubuh disukai oleh pria, bila tidak dibarengi dengan sikap dan perilaku yang kurang tepat.

Seperti dikutip dari ezinearticles, berikut tiga tipe wanita yang bisa membuat Pria tidak merasa nyaman.

Terlalu sensitif
Wanita yang terlalu sensitif perasaanya membuat pria serba salah. Jika Anda termasuk wanita yang tidak bisa menerima kritikan dan lelucon dari pasangan bisa membuat hubungan asmara tidak dapat bertahan lama. Perilaku sensitif yang ditunjukkan juga membuat pasangan merasa malas untuk di dekat Anda.

Cemburu yang tidak rasional
Cemburu merupakan bumbu dalam suatu hubungan. Namun, jika rasa cemburu menjadi berlebihan perlu diwaspadai. Tidak wajar bila dalam selang waktu lima menit sekali Anda menghubungi si dia. Tidak hanya menanyakan kabar, Anda juga menanyakan bersama siapa dia dan saat bertemu Anda memeriksa ponselnya. Hubungan seperti ini tentu tidak baik bila terus dijalani dan lebih parahnya lagi, biasanya dibarengi dengan sikap protektif yang berlebihan.

Dasar dari perasaan cemburu adalah karena kurangnya kepercayaan. Oleh sebab itu mulailah bangun kepercayaan terhadap pasangan untuk hubungan yang lebih baik.

Terlalu matrealistis
Ketidaknyamanan terburuk yang dirasakan pria adalah bila pasangannya terlalu matrealistis. Jika Anda ingin tampil cantik depan pasangan, namun selalu memanfaatkan uang pasangan tentunya Anda tidak akan dilihat cantik oleh pasangan. Membeli sepatu dan baju yang mewah tidaklah buruk, namun ada baiknya tidak bergantung pada pasangan. Sebaiknya buatlah pasangan terkesan dengan kemampuan yang Anda miliki bukan keterkaitan dan ketergantungan Anda dengan uangnya. *Sumber
Baca Selengkapnya..

Rabu, 03 Februari 2010

Perilaku Buruk Orang Dewasa Diduga Kurang ASI Saat Bayi

Pernahkah melihat perilaku orang dewasa yang sangat buruk seperti gampang marah, egois suka kekerasan? Coba tanyakan kehidupannya saat bayi, apakah diberi ASI atau tidak? Karena perilaku buruk orang dewasa ternyata juga terkait dengan pemberian ASI atau tidak ketika kecil.

Peneliti dari Menzies School of Health Research di Darwin, Profesor Sven Silburn menuturkan terdapat bukti yang menunjukkan hubungan antara menyusui dengan kesehatan mental seseorang.

Jika saat bayi diberi ASI, maka tubuh orang saat bayi akan mendapat serotonin yaitu zat antistres yang banyak dibentuk dalam 2 tahun pertama kehidupan si bayi.

Zat antistres ini akan masuk ke dalam tubuhnya yang membuat anak menjadi tidak mudah marah, menghindari stres dan depresi serta mengurangi kemungkinan terkena gangguan mental saat dewasa nanti.

Sebaliknya sikap orang dewasa yang mudah marah, gampang stres, gampang depresi serta gampang terkena gangguan mental bisa jadi salah satu faktornya kurangnya asupan serotonin saat bayi alias tidak mendapatkan ASI.

Orang yang mendapatkan ASI saat masih bayi juga cenderung akan memiliki perilaku yang lebih baik, terhindar dari sifat kekerasan, kelalaian, meningkatkan kecerdasan serta menghindari sifat egois. Ini dikarenakan saat disusui anak mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya, sehingga anak tak perlu mencari-cari perhatian dengan melakukan perilaku yang buruk.

Karena efek negatif jika tidak diberikan ASI terbawa hingga dewasa, peneliti menyarankan agar ibu menyusui anaknya secara eksklusif sebab anak yang mendapatkan ASI akan memiliki perilaku yang lebih baik.

Sedangkan pada susu formula cenderung mengandung zat mangan (Mn) yang tinggi, zat ini bisa membuat anak menjadi cepat stres dan marah. Jika hal ini terus berlanjut, maka ada kemungkinan saat dewasa anak memiliki perilaku yang buruk.

Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam pertemuan tahunan American Public Health Association menemukan bahwa orangtua yang memberikan ASI saat masih bayi cenderung jarang melaporkan adanya masalah perilaku pada anaknya.

"Ini merupakan temuan awal, tapi hal ini sudah menunjukkan jika orangtua tidak menyusui anaknya akan berpengaruh pada perilaku selama masa anak-anak ataupun jika sudah dewasa," ujar Dr Katherine Hobbs Knutson, seperti dikutip dari HealthDay, Selasa (2/2/2010).

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan orang yang mengonsumsi ASI saat masih bayi memiliki kemungkinan gangguan perilaku 37 persen lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mendapatkan ASI.

ASI sebaiknya menjadi satu-satunya pilihan bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 bulan, tapi akan lebih baik lagi jika ASI tetap diberikan hingga bayi berusia 2 tahun.

Sehingga membuat ikatan emosional antara ibu dan anaknya menjadi lebih kuat, hal ini juga yang membuat perilaku anak yang diberik ASI lebih baik daripada anak yang tidak mendapatkan ASI sama sekali. *http://health.detik.com
Baca Selengkapnya..

Senin, 30 November 2009

Suamiku Bukan Lelaki Sempurna.

Dulu di tengah hangatnya teh panas dan sepotong rotii di pagi hari, saya dan teman-teman satu kos sering ngobrol tentang sosok ikhwan atau suami ideal.

Menurut kami seorang ikhwan yang paham agama pastilah sosok yang amat ’super’. Super ngemong, sabar, romantis, dan sebagainya, tiada cela dan noda. Dalam pikiran polos kami saat itu, seorang ikhwan itu pasti ittibaussunnah dalam segala hal, termasuk dalam berumah tangga.

Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari, ternyata dulu kami melupakan satu hal. Yaitu bahwa seorang ikhwan adalah juga manusia, yang tentu saja memiliki sifat “manusiawi”. Mereka pun memiliki sederet masalah, dan mereka bukan malaikat. Jadi, tidak layak tentunya jika berbagai tuntutan kita bebankan kepada mereka.

Membangun harapan adalah sah-sah saja. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok suami yang bisa menyelesaikan konflik tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati atau masalah adalah harapan berlebihan.

Apalagi mengharap suami yang full romantis di antara sekian beban yang ditanggungnya. Suami kita hanyalah laki-laki biasa yang punya masa lalu dan latar belakang berbeda dengan kita. Mereka seperti kita juga, punya banyak kelemahan di samping kelebihannya.

Lantas apakah harus kecewa kalau sudah dapat suami tapi masih jauh dari harapan waktu muda? Tidak juga. Hal terpenting adalah jangan lagi berandai-andai dan mengeluh. Berpikirlah progresif, jangan regresif. Pikirkan solusi, jangan mempertajam konflik atau mendramatisir keadaan. Komunikasikan apa yang ada dalam benak kita dalam situasi terbaik.

Fitrah wanita dengan porsi perasaan yang lebih dominan seharusnya menjadikan kaum hawa lebih pintar memilih waktu curhat yang tepat. Sikap “nrimo” atas kekurangan suami bisa jadi pilihan tepat untuk mengurangi tingkat kekecewaan.

Konsepnya semakin Anda melihat perbedaan, semakin terluka hati ini (self-fulfilling prophecy). Jadi, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Dan ingat, dari sekian akhwat yang ada, Andalah yang terpilih untuk menjadi belahan hatinya. Karena itu cintailah suami Anda apa adanya.

Bagi para akhwat yang belum menikah, tetaplah “memanusiakan” manusia. Para ikhwan itu adalah seperti diri kita juga. Mereka bukan Superman. Ingat pula bahwa jodoh ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetaplah perbaiki diri baik secara dien maupun fisik. Masalah siapa suami dan bagaimana sosok suami kita kelak adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Singkirkan sederetan tuntutan “super” bagi calon suami. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi. Percayalah pada janji Allah, bahwa suami yang baik adalah untuk istri yang baik pula, insya Allah. Lagi pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa memilih suami adalah karena ketinggian agama dan akhlaknya, bukan prioritas sekunder lainnya.

Akhir kata, yuk, sembari menyeruput teh panas, kita ganti topik menjadi ~Bagaimana menjadi istri ideal.~ Wallahu a’lam. *jilbab.or.id

Baca Selengkapnya..

Rabu, 03 September 2008

Mengajarkan Anak Konsep Bermaafan

Umat muslim baru saja memasuki bulan Ramadhan. Namun meminta maaf sebaiknya tidak menunggu hingga hari Lebaran yang identik dengan kalimat minal aidin wal faidzin. Memaafkan seringkali kata yang yang mudah diucapkan tapi teramat sulit untuk dilakukan.

Rasulullah SAW adalah seseorang yang sangat mulia terutama dengan sikapnya yang sangat pemaaf. Sebuah kisah menceritakan beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang Quraisy kala sakit, meski sebelumnya orang itu tak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf.

Penulis buku Being Happy, Andrew Matthews mengatakan, ketika seseorang tidak memaafkan orang yang menyakitinya maka satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah dirinya sendiri.

Permintaan maaf hendaknya dilatih sejak dini, saat anak mulai bisa berbicara. Hanya saja, pada usia anak bawah tiga tahun (batita), mengajarkan anak meminta maaf masih sebatas pengkondisian.

Mengingat, anak usia batita masih memiliki sifat egosentris yang tinggi sehingga biasanya mau menang sendiri. Kemudian, setelah anak berusia 3 tahun keatas, maka anak akan lebih mengerti pada situasi apa dia meminta maaf. Terutama, jika dia melihat orangtuanya juga meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Konsultan anak prasekolah, batita dan bayi yang tinggal di Oakland County Michigan Kathryn Sims meminta agar orangtua tidak terlalu berharap anak batita meminta maaf atau memberi pelukan untuk menyenangkan seseorang atau ‘membereskan situasi’.

Alasannya, walau mengucapkan kata-kata maaf atau memeluk, mereka tidak memahami konsep ‘bagaimana perasaan orang lain’.

”Secara perkembangan, anak batita tidak dapat memakai perspektif orang lain. Kemampuan ini akan datang seiring perkembangan, bukan dari latihan,” papar Sims.

Sims berpendapat, tidak ada cara efektif untuk membantu anak batita untuk memulai pengendalian emosi dan perilaku, lantaran semua itu akan tiba dengan sendirinya seiring perkembangan dari waktu ke waktu.

“Perkembangan sosial dan emosional memerlukan waktu, pemahaman dan kesabaran,” tegas Sims.

Penulis buku The Parent’s Toolshop: The Universal Blueprint for Building a Healthy Family Jody Johnston Pawel mengakui, membiasakan anak meminta maaf akan membantu anak menerima tanggung jawab atas suatu kesalahan dan memberi sarana untuk membuat segala sesuatu baik kembali.

Selain itu, meminta maaf juga membantu anak yang diibaratkan mengeluarkan diri dari lubang kesalahan, menjernihkan udara yang sesak oleh ketegangan, membantu memperbaiki hubungan, dan memberi permulaan baru.

Umumnya meminta maaf bersungguh-sungguh secara tulus, baru bisa dipahami anak pada usia sekolah dasar. Pada masa itu, anak-anak sudah lebih bisa mengerti mengenai hal-hal yang abstrak.

“Permintaan maaf dari hati secara tulus memang bersifat abstrak, tapi kesalahannya bersifat konkrit. Misalnya, buku yang rusak akibat perbiatannya, atau temannya yang terluka karena dipukul. Jadi untuk anak usia SD, mereka bisa lebih mudah mengerti,” jelasnya. (republika.co.id)

Baca Selengkapnya..

Selasa, 25 Maret 2008

Ingin Jantung Sehat? Menikahlah yang Harmonis!

Pernikahan yang harmonis ternyata akan meningkatkan kesehatan. Khususnya jantung. Demikian hasil penelitian ilmuwan Brigham Young University Amerika Serikat (AS). Pernikahan yang harmonis berperan besar dalam menjaga tekanan darah seseorang. Sementara itu, pernikahan yang tidak harmonis membuahkan tekanan darah yang lebih tinggi kepada pasangan suami-istri daripada orang dewasa lajang.

Riset terkini menunjukkan, orang dewasa yang menikah bahagia mempunyai tekanan darah lebih rendah daripada bujangan, meskipun kaum lajang tersebut memiliki hubungan pertemanan yang mendukung. Secara langsung ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah masalah kesehatan jantung. Demikian ungkap Holt-Lunstad, psikolog yang meneliti masalah kesehatan dan hubungan manusia di Brigham Young University (BYU), AS.

Sebagaimana dilaporkan www.sciencedaily.com 21 Maret 2008, Julianne Holt-Lunstad, profesor di Brigham Young University (BYU), AS, menemukan bahwa kaum adam dan hawa yang menikah bahagia memiliki tekanan darah harian 4 angka lebih rendah dibandingkan dewasa lajang. Memiliki sahabat yang mendukung tidak membuat tekanan darah lebih baik bagi kaum lajang ataupun mereka yang menikah tapi tidak bahagia. Apa yang diungkap ini merupakan kejutan bagi profesor Holt-Lunstad dan timnya.

“Terlihat ada manfaat kesehatan dari pernikahan,” kata profesor Holt-Lunstad. “Tidak hanya menikah yang berguna bagi kesehatan –yang sebenarnya paling melindungi kesehatan adalah pernikahan yang bahagia.”

Tidak heran pula, penelitian tersebut menemukan hal sebaliknya: kalangan dewasa yang menikah tapi tidak bahagia bertekanan darah lebih tinggi dibandingkan mereka yang menikah bahagia dan dewasa bujang bahagia.

Peneliti itu melibatkan 204 dewasa menikah dan 99 dewasa bujang. Pada tubuh mereka dipasang alat perekam tekanan darah selama 24 jam tanpa dilepas. Alat tersebut merekam tekanan darah secara acak sepanjang hari – bahkan saat mereka tidur. Sekitar 72 kali alat ini mengambil sampel tekanan darah mereka yang menjadi obyek penelitian itu.

“Kami ingin merekam tekanan darah peserta ketika mereka tengah melakukan kegiatan apa pun dalam kehidupan keseharian,” papar Holt-Lunstad.
“Mendapatkan satu atau dua pengukuran di tempat pemeriksaan sebenarnya tidak mewakili fluktuasi tekanan darah yang terjadi sepanjang hari.”

Seluruh peserta yang diteliti menjawab pertanyaan seputar daftar nama-nama rekan dalam jaringan persahabatannya, serta pertanyaan mengenai keadaan hubungan persahabatan itu. Peserta yang sudah menikah melengkapi pula pertanyaan tentang kondisi hubungan mereka dengan suami atau istrinya.

Dengan alat pencatat tekanan darah yang berfungsi siang dan malam, peneliti itu dapat mengetahui bahwa tekanan darah dewasa yang sudah menikah – khususnya yang menikah bahagia – menurun ke tingkat lebih rendah daripada kaum lajang.

“Penelitian telah memperlihatkan bahwa orang yang tekanan darahnya tetap tinggi sepanjang malam jauh lebih beresika terkena masalah jantung dan pembuluh darah dibandingkan orang yang tekanan darahnya menurun,” ujar Holt-Lunstad.
Holt-Lunstad berujar, pasangan menikah dapat mendorong kebiasaan sehat, misalnya saling menasehati untuk ke dokter dan mengkonsumsi makanan sehat. Hubungan pernikahan juga merupakan sumber dukungan emosional di waktu sedih dan gembira. Berbagi berita baik antara suami dan istri, misalnya, menimbulkan emosi positif, yang akhirnya mendorong fungsi tubuh. *www.hidayatullah.com

Baca Selengkapnya..