Jendela Keluarga

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Seuntai Kenangan

Kamis, 25 Juni 2026

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

Setiap tanggal 29 Juni, Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional yang dikenal dengan Harganas. Pada tahun 2026 ini, momentum tersebut terasa semakin relevan, bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk membaca kembali berbagai tantangan yang dapat merusak ketahanan keluarga. Salah satu tantangan terbesar itu adalah perangkat yang hampir tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari, yaitu gadget.

Di era modern, gadget telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Namun, tidak jarang perangkat ini digunakan bukan hanya untuk belajar atau mencari informasi, tetapi juga membuka ruang interaksi yang melampaui batas syariat, seperti percakapan tidak penting dengan lawan jenis yang bukan mahram, atau sekadar menunggu notifikasi dari seseorang yang diperlakukan secara emosional spesial.

Dari sinilah muncul istilah “khalwat digital”, yaitu kondisi ketika laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan di ruang maya yang bersifat privat dan minim pengawasan.

Kekhawatiran terhadap fenomena khalwat digital bukan tanpa alasan. Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235 juta orang dengan durasi penggunaan lebih dari tiga jam setiap hari di media sosial.

Kondisi ini melahirkan pola interaksi baru, relasi baru, bahkan hubungan pacaran yang sering kali melampaui batas-batas syariat Islam.

Sebagian orang memahami khalwat hanya sebagai kondisi berduaan secara fisik di tempat sepi tanpa diketahui orang lain. Namun dalam perspektif fikih, khalwat adalah kondisi ketika laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan di tempat yang memungkinkan terjadinya pelanggaran batas syariat.

Dalam konteks digital, “sepi” tidak selalu berarti tanpa orang secara fisik, tetapi juga ruang privat seperti chat, video call, dan interaksi tertutup yang tidak dapat diawasi pihak lain.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa larangan khalwat berkaitan dengan keberadaan setan sebagai pihak ketiga yang mendorong kepada kemaksiatan. Dalam konteks media sosial, ruang digital justru menjadi arena yang lebih bebas, karena interaksi dapat berlangsung tanpa batasan sosial yang biasanya ada di ruang fisik.

Penelitian Nur Rahma Dina, M. Yoga Firdaus, dan Taufik Rahman dalam artikel “Khalwat Melalui Chatting dan Video Call: Studi Takhrij dan Syarah Hadis” menyimpulkan bahwa khalwat tidak lagi terbatas pada aspek fisik, tetapi juga mencakup interaksi digital seperti chat mesra, video call, dan pertukaran foto antara lawan jenis yang bukan mahram.

Hal ini bukan karena penolakan terhadap teknologi, melainkan karena substansi larangan tetap sama, yaitu membuka peluang terjadinya pelanggaran syariat.

Ungkapan seperti “kami hanya chat biasa, tidak sampai bertemu langsung” sering dijadikan pembenaran. Namun dalam banyak kasus, interaksi kecil yang dianggap sepele justru menjadi pintu masuk menuju keterikatan emosional yang lebih dalam.

Islam memiliki prinsip sadd adz-dzari’ah, yaitu menutup segala jalan yang berpotensi mengantarkan pada kemaksiatan. Karena itu, Islam tidak hanya melarang zina sebagai puncak pelanggaran, tetapi juga melarang seluruh proses yang mengarah kepadanya.

Para ulama menjelaskan bahwa khalwat sering menjadi tahap awal yang membuka jalan menuju pelanggaran yang lebih besar, dimulai dari komunikasi ringan, munculnya kedekatan emosional, pertemuan langsung, hingga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Khalwat digital bahkan lebih berbahaya dibandingkan khalwat fisik karena sifatnya yang tersembunyi. Orang tua tidak mengetahui, lingkungan tidak menyadari, dan pelaku merasa bebas tanpa pengawasan. Tidak sedikit pula kasus perceraian yang dipicu oleh perselingkuhan yang berawal dari interaksi di media sosial.

Jika fenomena pacaran yang diiringi khalwat digital dilihat melalui perspektif maqashid syari’ah, maka dampaknya dapat merusak lima aspek utama:

  • Hifzh ad-Din (Menjaga Agama)
  • Hubungan yang tidak sesuai syariat sering membuat seseorang lalai dalam ibadah, menunda salat, malas beribadah, dan melemahkan kesadaran terhadap nilai-nilai agama.

  • Hifzh an-Nafs (Menjaga Jiwa)
  • Ketergantungan emosional dalam hubungan dapat memicu stres, depresi, bahkan trauma, terutama ketika hubungan berakhir atau terjadi konflik yang disertai ancaman penyebaran konten pribadi.

  • Hifzh al-‘Aql (Menjaga Akal)
  • Fokus yang berlebihan pada hubungan asmara dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan kemampuan berpikir, dan berdampak pada penurunan prestasi akademik maupun nonakademik.

  • Hifzh an-Nasl (Menjaga Keturunan)
  • Hubungan yang tidak terkontrol dapat berujung pada pertemuan fisik yang melanggar syariat, bahkan berpotensi pada perzinaan dan dampak sosial serius seperti kehamilan di luar nikah serta rusaknya nasab.

  • Hifzh al-Mal (Menjaga Harta)
  • Hubungan pacaran juga kerap menimbulkan pemborosan finansial, bahkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit, termasuk biaya sosial dan hukum ketika terjadi konflik atau perceraian akibat perselingkuhan.

    Kelima aspek ini menunjukkan bahwa dampak khalwat digital tidak hanya bersifat moral, tetapi juga sosial, psikologis, dan ekonomi. Islam kemudian menawarkan solusi melalui konsep ta’aruf, yaitu proses saling mengenal dalam koridor syariat dengan melibatkan keluarga agar interaksi tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang.

    Dalam konteks ketahanan keluarga, peran orang tua menjadi sangat penting, mulai dari menciptakan suasana rumah yang nyaman, memberikan pendidikan agama, membangun komunikasi yang terbuka, hingga memahami perkembangan dunia digital agar dapat melakukan pendampingan yang tepat.

    Bagi generasi muda, menjaga diri di era media sosial bukan berarti ketinggalan zaman, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengelola diri. Harganas 2026 menjadi pengingat bahwa ketahanan keluarga tidak dibangun secara instan, tetapi dari kebiasaan kecil sehari-hari, termasuk bagaimana seseorang menggunakan gawai dan media sosial secara bertanggung jawab.* hidayatullah.com

    Baca Selengkapnya..

    Rabu, 09 Juni 2021

    Istimewanya Guru PAUD

    Bagi sebagian masyarakat, menjadi guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) mungkin terbilang bukan profesi yang bergengsi. Tidak pula sebagai pekerjaan yang menarik minat banyak orang.

    Sebaliknya, bisa jadi ada yang masih memandang sebelah mata, menganggap guru PAUD hanya butuh modal suka bernyanyi saja. Tak heran, jarang didapati, siswa-siswa lulusan sekolah terkenal dengan peringkat terbaik, lalu memilih untuk menggeluti pendidikan anak usia dini.

    Pemahaman ini tentu perlu diluruskan. Sekurangnya agar masyarakat bisa lebih menghargai peran guru-guru PAUD yang telah mendidik anak-anak mereka di usia emas. Paling tidak, para guru PAUD itu sendiri yang lebih mensyukuri profesi dan amanah yang sedang dilakoninya.

    Berikut beberapa keistimewaan guru-guru PAUD atau Pejuang Golden Age tersebut:

    1. Pembentuk Pondasi Tauhid dan Akhlak
    Usia anak PAUD (0-6 tahun) adalah usia emas (golden age). Periode di mana otak dan fisik anak tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Seluruh informasi yang masuk begitu mudah terserap dalam memori mereka, sehingga guru PAUD memiliki kesempatan yang besar untuk menanamkan pondasi tauhid dan akhlak mereka.

    Ada kegiatan-kegiatan pembelajaran yang terlihat sederhana dan terkadang dianggap tidak penting, seperti mengamati bentuk dan warna daun, mengenal perbedaan jenis binatang, merasakan tekstur pasir atau air dan pembelajaran lainnya yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, namun jika kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT), maka kegiatan yang terlihat sederhana tersebut mampu menguatkan pondasi tauhid dan akhlak mereka.

    Mengapa? Karena dalam kurikulum tersebut anak-anak diajarkan segala hal melalui proses tilawah, tazkiyah, ta’limah, serta hikmah.

    Merujuk pada QS. Al-Jumuah : 2
    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

    “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesalan yang nyata.”

    2. Madrasah kedua setelah ibu
    Dalam pepatah arab dikatakan bahwa ‘Al-Ummu madrasatul ula (ibu adalah madrasah pertama) bagi anak. Jika demikian, maka madrasah kedua bagi anak-anak adalah Guru PAUD. Pada kenyataannya kebanyakan anak-anak bisa membaca, menulis dan berhitung, belajar antri, berbagi dengan teman, bersosialisasi, dan sebagainya di tangan mereka.

    Tidak sedikit didapati orang tua yang benar-benar masa bodoh terhadap perkembangan anaknya dan menyerahkan sepenuhnya kepada guru PAUD. MasyaAllah ladang pahala semakin terbuka lebar.

    3. Role Model Sejati
    Sudah menjadi hal lumrah bahwa guru PAUD biasanya menjadi panutan sejati bagi anak-anak muridnya. Mereka akan meniru ucapan, sikap bahkan gaya berbicara gurunya. Kadang terdengar celetukan seorang wali murid, “Ucapan guru PAUD ini seperti sabda bagi anak-anak, kalau sudah gurunya bilang A maka umminya juga harus bilang A, jika tidak dituruti mereka akan ngambek,”

    Sikap lain dari bukti istimewanya guru PAUD, jika pelajar atau siswa lainnya biasanya sungkan bahkan takut jika bertemu gurunya di jalan, sebaliknya dengan murid PAUD. Mereka dengan bangganya akan berteriak menyapa sang guru tanpa peduli situasi dan kondisi.

    Disinilah kesempatan emas bagi seorang guru PAUD untuk memberikan teladan yang sebaik-baiknya, tentu saja dengan terlebih dahulu meneladani Nabiullah Muhammad Shallalahu alaihi wasallam. Beliau adalah sebaik-baik contoh, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mentransfer nilai-nilai adab Rasulullah kepada anak didik kita.

    4. Pemilik Seribu Jurus
    Menghadapi masalah murid PAUD tidak sama dengan menghadapi masalah murid SD apalagi SMP. Salah satu keistimewaan guru PAUD adalah memiliki kemampuan mengeluarkan seribu jurus. Di antaranya, jurus menghadapi anak yang sedang ngambek, nangis, ngamuk, marah, jatuh, takut, atau sulit fokus belajar. Tentu semua itu membutuhkan kreatifitas, tenaga dan kesabaran full.

    Namun yang terpenting dari semua itu, kita harus selalu memanjatkan doa agar kiranya Allah menganugerahkan kepada kita lisan yang dapat melahirkan qaulan layyinah, dan qaulan karima.

    5. Awet muda
    Ada yang bilang “Kalau mau awet muda, ngajar PAUD”. MasyaAllah menghadapi anak-anak PAUD memang harus memasang senyum termanis setiap saat, ceria dalam keadaan apapun dan yang pasti membersamai mereka adalah hiburan dan anugerah yang Allah berikan kepada guru PAUD.

    Demikian beberapa keistimewaan yang dimiliki seorang guru PAUD, tentu saja masih banyak keistimewaan lainnya. Di balik semua itu, guru PAUD tetaplah manusia biasa bukan peri dalam negeri dongeng apalagi berharap seperti malaikat.

    Tetap saja terkadang lelah tak mampu bersembunyi di balik wajah, suara tak mempu bertahan dalam intonasi yang sama. Namun selalu ada cinta yang tulus, siap berlabuh pada mata-mata mungil tanpa dosa. Mereka adalah calon pemimpin masa depan, mereka kelak akan berjuang menghadapi situasi zaman yang rumit di tengah cita-cita membangun peradaban Islam

    Siapkan kader terbaik dari usia dini. Semoga selalu istimewa dan diistimewakan oleh Allah. Mari menitip ilmu dalam balutan senyum, berharap kelak menjadi doa-doa terbaik untuk kita yang diijabah oleh Allah.

    *Ditulis oleh Mujtahidah MS (Guru di Gunung Tembak, Balikpapan)/hidayatullah.com
    Baca Selengkapnya..

    Rabu, 20 Februari 2013

    Penelitian: Orang yang Tak Menikah Cenderung Cepat Meninggal

    Jalan hidup setiap orang memang berbeda, begitu pula masalah jodoh karena katanya ini ada di tangan Tuhan. Menikah idealnya dilakukan saat usia 20-an tahun. Penelitian bahkan menemukan bahwa orang yang tak menikah cenderung lebih cepat meninggal.

    Boleh percaya atau tidak, ada peneliti yang menganalisis hubungan antara menikah dengan lama hidup seseorang. Entah karena iseng atau penasaran, peneliti menemukan kesimpulan yang cukup mengejutkan, yaitu orang yang tak punya pasangan saat berusia paruh baya lebih tinggi risikonya mengalami kematian.

    Penelitian ini dilakukan oleh Dr Ilene Siegler dan rekan-rekannya dari Duke University Medical Center di AS. Tujuannya untuk mencari tahu mengapa ada sebagian orang yang tak dapat bertahan hidup sampai usia tua. Para peneliti ingin melihat pentingnya menikah bagi kesehatan.

    Dalam laporan yang dimuat jurnal Annals Springer of Behavioral Medicine, para peneliti melihat efek riwayat dan waktu perkawinan serta usia kematian pada orang berusia paruh baya. Ada data dari 4.802 orang yang diteliti faktor kepribadiannya saat berusia 18 tahun, status sosial ekonomi dan perilaku yang berisiko bagi kesehatan.

    Temuan menunjukkan bahwa kehadiran pasangan saat usia paruh baya bisa melindungi dari kematian dini. Orang yang tidak pernah menikah lebih berisiko 2 kali lipat mengalami kematian dibandingkan dengan orang yang pernikahannya langgeng. Menduda atau menjanda tanpa mendapat pengganti pasangan juga dapat meningkatkan risiko kematian.

    "Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa perhatian terhadap pola hubungan tanpa menikah terbukti berhubungan dengan kematian dini. Ikatan sosial selama usia paruh baya sangat penting untuk membantu kita memahami kematian dini," kata dr Siegler seperti dilansir Counsel and Heal, Senin (14/1/2013).

    Usia paruh baya atau dewasa madya adalah rentang usia 40 - 60 an tahun. Sayangnya peneliti tidak menyebutkan apa saja penyebab kematian orang-orang pada usia paruh baya ini. Walau demikian, setidaknya penelitian ini menemukan salah satu manfaat menikah di antara sekian banyak manfaat lainnya.*Detik.com

    Baca Selengkapnya..

    Jumat, 08 April 2011

    Rasa Bahagia, Jika Bisa Membahagiakan Istri

    Banyak pasangan bertanya, bagaiamana tips agar kita dapat membahagiakan pasangan kita? Kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut bahagia. Itulah kuncinya. Impilikasinya, agar kita bahagia, carilah orang yang paling dekat dengan kita dan bahagiaakanlah mereka. Setelah itu, barulah kita akan merasa bahagia. Sesungguhnya bahagia itu bukan "benda" yang akan berkurang bila diberikan, tetapi ia seumpama cahaya yang semakin "diberikan" akan bertambah sinar terangnya. Ada kata orang bijak pandai, “dengan menyalakan lilin ke orang lain, lilin kita tidak akan padam... tetapi kita akan mendapat lebih banyak cahayanya.”

    Siapakah orang –orang terdekat dan yang paling layak kita berikan kebahagiaan? Selain kedua ibu-bapa, maka para suami harus membahagiaan istrinya. Karena ialah yang paling utama harus mendapatkan kebahagiaan itu. Jika istri kita tidak merasa bahagia, jangan harap kita dapat membahagiakan orang lain. Dan paling penting, jika istri sudah menderita itu juga pertanda kita juga akan ikut menderita. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut menikmati kebahagiaan.

    Apakah langkah pertama untuk membahagiakan istri? Pertama, hargailah kehadirannya. Rasakan benar-benar bahwa si dia adalah anugerah Allah yang paling berharga. Jodoh kita itu merupakan anugrah yang telah dikirim Allah khusus sebagai teman hidup kita sepanjang masa ketika hidup di dunia ini. Karena itu, jangan pernah sia-siakan ia.

    Ingatlah bahwa yang paling berharga di dalam rumah kita bukannya perabot, bukan peralatan eletronik, komputer ataupun barang-barang antik yang lain. Yang paling berharga ialah manusianya – istri atau suami kita itu. Itulah" modal insan" yang sewajarnya lebih kita hargai daripada segala-benda yang mudah rusak itu. Masalahnya, benarkah kita telah menghargai istri melebihi barang-barang berharga di rumah kita?

    Sayang sekali, kadang lain difikiran lain pula yang dirasa. Coba renungkan, berapa banyak para suami yang lebih prihatin keadaan kendaraan mewahnya atau barang-barang berharganya dibanding perasaan istrinya. Batuk istri yang berpanjangan seolah tidak ikut ia (suami) rasakan, dibanding "batuk" kendaraan pribadinya. Jika mobilnya suaranya aneh, ada sedikit kerusakan, para suami cepat-cepat membawanya ke tempat resvice mobil. Sementara jika sakit istrinya, ia tak segera buru-buru mengantarkan ke dokter atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.

    Bila kendaraan terdengar/terasa sedikit 'aneh', cepat-cepat dibawa ke bengkel, namun jika istrinya yang batuk-batuk, malah dibiarkan. Alasannya, itu batuk biasa, atau tanda badan sudah tua.

    Banyak pria memilih menjadi 'workoholic'. Ia bekerja siang, malam, tak kenal cuti dan istirahat. Bila ditanya mengapa ia begitu sibuk? Dia menjawab, “ini demi anak dan istri.” Padahal, ketika pulang ke rumah, waktunya juga bukan untuk anak dan istrinya. Yang ada, ia justru mengabaikan istri.

    Ada suami yang hobi memancing setiap akhir pekan. Sementara di saat yang sama, ia membiarkan anak-anak dan istrinya kesepian di rumah. Padahal saat itulah waktu luang yang mereka tunggu selama ini agar bisa berasama-sama setelah semua harinya dihabiskan di kantor dan tempat kerja.

    Di sekitar kita banyak orang aneh. Ada yang mencari duit sampai tidak sempat menikmati duit. Bila duit sudah terkumpul, kesehatan sudah tergadai, rumah tangga sudah berkecai, istri malah ikut terabai.

    Jadi bagaimana kita dapat mengharagai pasangan kita? Insya-Allah, bila ada kemauan pasti saja ada jalan. Dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang bersungguh-sungguh. Kata orang, kasih, cinta dan sayang seumpama aliran air, senantiasa tahu ke arah mana ia hendak mengalir. Mulakan dengan memandangnya dengan perasaan kasih, mungkin wajah istri kita sudah berkerut, tetapi rasakanlah mungkin separuh "kerutan" itu karena memikirkan kesusahan bersama kita. Mungkin uban telah penuh di kepalanya, tetapi uban itu "tanda bukti" pengorbanannya dalam membina rumah tangga bersama kita. Itulah pandangan mata hati namanya.

    Kalau dulu semasa awal bercinta, pandangan kita dari mata turun ke hati. Tetapi kini, setelah lama bersamanya, pandangan kita mesti lebih murni. Tidak dari mata turun ke hati lagi, tetapi sudah dari hati "turun" ke mata. Jika saat pertama kita terpaut karena "body", kinia yang kita lihat lebih jauh lagi, namanya “budi”. Yang kita pandang bukan lagi urat, tulang dan daging lagi... tetapi suatu yang murni dan hakiki – kasih, kasihan, cinta, sayang, mesra, ceria, duka, gagal, jaya, pengorbanan, penderitaan – dalam jiwanya yang melakarkan sejarah kehidupan berumah tangga bersama kita!

    Daripada pandangan mata hati itulah lahirlah sikap dan tindakan. Love is verb, cinta itu tindakan, kata penyair.

    Para suami kaya pulang bersama cincin permata untuk menghargai si istri. Atau petani hanya membawa sebiji mangga untuk dimakan bersama sang "permaisuri". Buruh yang pulang bersama keringat disambut senyuman dan dihadiahkan seteguk air sejuk oleh istri tentunya lebih bahagia dan dihargai oleh seorang jutawan yang disambut di muka pintu villanya tetapi hanya oleh seorang "orang –orang yang digaji".

    Begitulah ajaibnya cinta yang dicipta Allah, ia hanya boleh dinikmati oleh hati yang suci. Ia terlalu mahal harganya. Intan, permata tidak akan mampu membeli cinta!

    Hargailah sesuatu selagi ia masih di depan mata. Begitu selalu pesan cerdik-pandai dan para pujangga. Malangnya, kita selalu lepas pandang. Sesuatu yang 'terlalu' dekat, kadang lebih sukar dilihat dengan jelas. Sementara yang jauh terkesan jelas. Istri di depan mata, tidak dihargai, tapi orang lain nun jauh dipuji-puji. Kajian menunjukkan bahwa para suami di Amerika lebih banyak meluangkan masa menonton TV daripada bercakap dengan istrinya. Bayangkanlah, tiga jam menonton TV bersama tanpa sepatah-katapun pada istri atau keluarga, apa untungnya? Padahal istri dan anaknya duduk bersebelahan dengannya hanya beberapa inci.

    Bahkan jika kita di rumahpun, kadang lebih sibuk ber SMS dengan orang lain. Malam SMS kadang, SMS ke teman lebih banyak dibanding jika ia SMS dengan istri jika sedang berada di luar atau di kantor. No news is a good news. Begitu seharusnya , rasa di hati kita.

    Hidup terlalu singkat. Hidup hanya sekali. Dan yang pergi tak akan pernah kembali lagi. Yang hilang, mungkin tumbuh lagi... Tetapi tidak semua perkara akan tumbuh seperti semula. Apakah ibu-bapa yang 'hilang' akan berganti? Apakah anak, istri, suami yang 'pergi'... akan pulang semula? Jadi, hargailah semuanya selama segalanya masih ada di dekat kita. Pulanglah ke rumah dengan ceria, tebarkan salam, lebarkan senyuman. Mungkin esok, anda tidak 'pulang' atau tidak ada lagi si dia yang selama ini begitu setia menunggu kita di balik pintu. Mungkin Anda 'pergi' atau dia yang 'pergi'. Karenanya, hargailah nyawa dan raganya dengan dengan perasaan sayang dan cinta. Sebab hakekatnya kita tidak akan bahagia, selagi orang di sisi kita tidak bahagia!*

    www.hidayatullah.com
    Baca Selengkapnya..

    Rabu, 29 Desember 2010

    3 Tipe Wanita Yang Membuat Pria Tidak Nyaman

    Banyak karakteristik wanita yang disukai pria. Salah satunya adalah wanita cantik, namun tidak selamanya wajah cantik dan kemolekan tubuh disukai oleh pria, bila tidak dibarengi dengan sikap dan perilaku yang kurang tepat.

    Seperti dikutip dari ezinearticles, berikut tiga tipe wanita yang bisa membuat Pria tidak merasa nyaman.

    Terlalu sensitif
    Wanita yang terlalu sensitif perasaanya membuat pria serba salah. Jika Anda termasuk wanita yang tidak bisa menerima kritikan dan lelucon dari pasangan bisa membuat hubungan asmara tidak dapat bertahan lama. Perilaku sensitif yang ditunjukkan juga membuat pasangan merasa malas untuk di dekat Anda.

    Cemburu yang tidak rasional
    Cemburu merupakan bumbu dalam suatu hubungan. Namun, jika rasa cemburu menjadi berlebihan perlu diwaspadai. Tidak wajar bila dalam selang waktu lima menit sekali Anda menghubungi si dia. Tidak hanya menanyakan kabar, Anda juga menanyakan bersama siapa dia dan saat bertemu Anda memeriksa ponselnya. Hubungan seperti ini tentu tidak baik bila terus dijalani dan lebih parahnya lagi, biasanya dibarengi dengan sikap protektif yang berlebihan.

    Dasar dari perasaan cemburu adalah karena kurangnya kepercayaan. Oleh sebab itu mulailah bangun kepercayaan terhadap pasangan untuk hubungan yang lebih baik.

    Terlalu matrealistis
    Ketidaknyamanan terburuk yang dirasakan pria adalah bila pasangannya terlalu matrealistis. Jika Anda ingin tampil cantik depan pasangan, namun selalu memanfaatkan uang pasangan tentunya Anda tidak akan dilihat cantik oleh pasangan. Membeli sepatu dan baju yang mewah tidaklah buruk, namun ada baiknya tidak bergantung pada pasangan. Sebaiknya buatlah pasangan terkesan dengan kemampuan yang Anda miliki bukan keterkaitan dan ketergantungan Anda dengan uangnya. *Sumber
    Baca Selengkapnya..

    Rabu, 03 Februari 2010

    Perilaku Buruk Orang Dewasa Diduga Kurang ASI Saat Bayi

    Pernahkah melihat perilaku orang dewasa yang sangat buruk seperti gampang marah, egois suka kekerasan? Coba tanyakan kehidupannya saat bayi, apakah diberi ASI atau tidak? Karena perilaku buruk orang dewasa ternyata juga terkait dengan pemberian ASI atau tidak ketika kecil.

    Peneliti dari Menzies School of Health Research di Darwin, Profesor Sven Silburn menuturkan terdapat bukti yang menunjukkan hubungan antara menyusui dengan kesehatan mental seseorang.

    Jika saat bayi diberi ASI, maka tubuh orang saat bayi akan mendapat serotonin yaitu zat antistres yang banyak dibentuk dalam 2 tahun pertama kehidupan si bayi.

    Zat antistres ini akan masuk ke dalam tubuhnya yang membuat anak menjadi tidak mudah marah, menghindari stres dan depresi serta mengurangi kemungkinan terkena gangguan mental saat dewasa nanti.

    Sebaliknya sikap orang dewasa yang mudah marah, gampang stres, gampang depresi serta gampang terkena gangguan mental bisa jadi salah satu faktornya kurangnya asupan serotonin saat bayi alias tidak mendapatkan ASI.

    Orang yang mendapatkan ASI saat masih bayi juga cenderung akan memiliki perilaku yang lebih baik, terhindar dari sifat kekerasan, kelalaian, meningkatkan kecerdasan serta menghindari sifat egois. Ini dikarenakan saat disusui anak mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya, sehingga anak tak perlu mencari-cari perhatian dengan melakukan perilaku yang buruk.

    Karena efek negatif jika tidak diberikan ASI terbawa hingga dewasa, peneliti menyarankan agar ibu menyusui anaknya secara eksklusif sebab anak yang mendapatkan ASI akan memiliki perilaku yang lebih baik.

    Sedangkan pada susu formula cenderung mengandung zat mangan (Mn) yang tinggi, zat ini bisa membuat anak menjadi cepat stres dan marah. Jika hal ini terus berlanjut, maka ada kemungkinan saat dewasa anak memiliki perilaku yang buruk.

    Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam pertemuan tahunan American Public Health Association menemukan bahwa orangtua yang memberikan ASI saat masih bayi cenderung jarang melaporkan adanya masalah perilaku pada anaknya.

    "Ini merupakan temuan awal, tapi hal ini sudah menunjukkan jika orangtua tidak menyusui anaknya akan berpengaruh pada perilaku selama masa anak-anak ataupun jika sudah dewasa," ujar Dr Katherine Hobbs Knutson, seperti dikutip dari HealthDay, Selasa (2/2/2010).

    Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan orang yang mengonsumsi ASI saat masih bayi memiliki kemungkinan gangguan perilaku 37 persen lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mendapatkan ASI.

    ASI sebaiknya menjadi satu-satunya pilihan bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 bulan, tapi akan lebih baik lagi jika ASI tetap diberikan hingga bayi berusia 2 tahun.

    Sehingga membuat ikatan emosional antara ibu dan anaknya menjadi lebih kuat, hal ini juga yang membuat perilaku anak yang diberik ASI lebih baik daripada anak yang tidak mendapatkan ASI sama sekali. *http://health.detik.com
    Baca Selengkapnya..

    Senin, 30 November 2009

    Suamiku Bukan Lelaki Sempurna.

    Dulu di tengah hangatnya teh panas dan sepotong rotii di pagi hari, saya dan teman-teman satu kos sering ngobrol tentang sosok ikhwan atau suami ideal.

    Menurut kami seorang ikhwan yang paham agama pastilah sosok yang amat ’super’. Super ngemong, sabar, romantis, dan sebagainya, tiada cela dan noda. Dalam pikiran polos kami saat itu, seorang ikhwan itu pasti ittibaussunnah dalam segala hal, termasuk dalam berumah tangga.

    Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari, ternyata dulu kami melupakan satu hal. Yaitu bahwa seorang ikhwan adalah juga manusia, yang tentu saja memiliki sifat “manusiawi”. Mereka pun memiliki sederet masalah, dan mereka bukan malaikat. Jadi, tidak layak tentunya jika berbagai tuntutan kita bebankan kepada mereka.

    Membangun harapan adalah sah-sah saja. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok suami yang bisa menyelesaikan konflik tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati atau masalah adalah harapan berlebihan.

    Apalagi mengharap suami yang full romantis di antara sekian beban yang ditanggungnya. Suami kita hanyalah laki-laki biasa yang punya masa lalu dan latar belakang berbeda dengan kita. Mereka seperti kita juga, punya banyak kelemahan di samping kelebihannya.

    Lantas apakah harus kecewa kalau sudah dapat suami tapi masih jauh dari harapan waktu muda? Tidak juga. Hal terpenting adalah jangan lagi berandai-andai dan mengeluh. Berpikirlah progresif, jangan regresif. Pikirkan solusi, jangan mempertajam konflik atau mendramatisir keadaan. Komunikasikan apa yang ada dalam benak kita dalam situasi terbaik.

    Fitrah wanita dengan porsi perasaan yang lebih dominan seharusnya menjadikan kaum hawa lebih pintar memilih waktu curhat yang tepat. Sikap “nrimo” atas kekurangan suami bisa jadi pilihan tepat untuk mengurangi tingkat kekecewaan.

    Konsepnya semakin Anda melihat perbedaan, semakin terluka hati ini (self-fulfilling prophecy). Jadi, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Dan ingat, dari sekian akhwat yang ada, Andalah yang terpilih untuk menjadi belahan hatinya. Karena itu cintailah suami Anda apa adanya.

    Bagi para akhwat yang belum menikah, tetaplah “memanusiakan” manusia. Para ikhwan itu adalah seperti diri kita juga. Mereka bukan Superman. Ingat pula bahwa jodoh ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetaplah perbaiki diri baik secara dien maupun fisik. Masalah siapa suami dan bagaimana sosok suami kita kelak adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Singkirkan sederetan tuntutan “super” bagi calon suami. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi. Percayalah pada janji Allah, bahwa suami yang baik adalah untuk istri yang baik pula, insya Allah. Lagi pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa memilih suami adalah karena ketinggian agama dan akhlaknya, bukan prioritas sekunder lainnya.

    Akhir kata, yuk, sembari menyeruput teh panas, kita ganti topik menjadi ~Bagaimana menjadi istri ideal.~ Wallahu a’lam. *jilbab.or.id

    Baca Selengkapnya..